Tren Rumah Mungil

Tren Rumah Mungil Menjadi Pilihan Favorit Kaum Urban

Tren rumah mungil baru – baru ini menjadi perbincangan hangat sekaligus merupakan pilihan favorit bagi masyarakat urban di daerah perkotaan. Keberadaan lahan yang semakin terbatas telah memaksa generasi milenial untuk mencari rumah yang harganya masih masuk akal, sebab menipisnya lokasi ideal pemukiman merangsang mahalnya properti.

Sekumpulan arsitek ternama merasa tertantang untuk menciptakan rumah tempat tinggal dengan segala keterbatasannya. Lebih lanjut, mereka juga harus memikirkan bagaimana caranya menerapkan desain rumah terbuka pada jenis rumah mungil untuk keluarga berencana dengan dua anak hasil pencanangan program pemerintah.

Tren Rumah Mungil Menjadi Pilihan Favorit Kaum Urban

Rasanya seperti mimpi yang terwujud menjadi kenyataan apabila membayangkan betapa canggihnya memiliki kasur tersembunyi di kamar. Dengan bantuan sebuah tombol, mendadak ia muncul dari balik langit – langit kamar tidur anda, serupa halnya dengan meja makan yang tersimpan rapi di bawah lantai.

Kepala arsitek pemimpin proyek ambisius ini telah mengaplikasikan ide jeniusnya tersebut pada denah rumah seluas kurang lebih 40 meter persegi saja. Tak tanggung – tanggung, bahkan rumah mungil ini sudah terlengkapi dengan kehadiran balkon di lantai dua lengkap dengan keberadaan ruang rahasia yang sifatnya bongkar pasang.

Simon Woodrofe adalah dalang yang menyebabkan hotel kapsul dengan merek dagang YOTEL menjadi sukses besar dibicarakan netizen seluruh dunia. Ia mengaku mendapatkan inspirasi manakala sedang menonton film besutan Marvel di sebuah bioskop megah yang bisa mengubah dekorasinya dengan sentuhan tombol.

Tren Rumah Mungil Penuh Sentuhan Teknologi Muktahir

Sebagian besar ruangan ciptaan Simon dapat bertransformasi menjadi beberapa alternatif kegunaan rangkap yang sangat efisien. Misalnya saja sebuah ruang tamu yang merangkap dengan ruangan kerja, atau bahkan dapur yang menjelma menjadi bar mini dalam hitungan beberapa detik saja.

Dengan demikian, Simon berharap akan terjadi loncatan signifikan dalam penerapan teknologi masa depan dalam pembangunan properti. Ia begitu ambisius memperlihatkan beberapa blueprint untuk proyek miliknya yang akan segera terlaksana setelah YOTEL selesai dibangun.

Tren Rumah Mungil Penuh Sentuhan Teknologi Muktahir

Estimasinya adalah sekitar tiga puluh tahun ke depan, penduduk bumi akan bertambah populasinya sekitar 3 miliar jiwa memenuhi seluruh dunia. Lebih dari tujuh puluh persennya akan bermukim pada daerah kota metropolitan karena pusat aktifitas serta pemerintahan akan berfokus di sana sebagai poros pengendali negara.

Akibatnya, harga properti di kota maju akan semakin menggila di luar nalar manusia sehingga berbagai macam solusi harus kita siapkan sejak dini. Sejumlah langkah preventif wajib kita aplikasikan sesegera mungkin sebelum masalah besar terjadi sebagai efek samping dari ledakan penduduk massal nantinya.

Tenaga profesional di bidang arsitektural, designer, hingga perusahaan developer ternama harus saling bekerja sama menciptakan sinergi dalam mewujudkan suasana kondusif. Program pembangunan tempat tinggal skala mikro sudah seharusnya terlaksana mulai sekarang juga sebelum pemerintah kewalahan memberantas bangunan liar tepi kota dan menimbulkan masalah baru lainnya.

Harmonisasi Budaya Timur dan Barat Dalam Sebuah Rumah Tinggal

Menelusuri jejak budaya properti di negara unik Asia yaitu Jepang, mereka telah mengenal tradisi bernama Ryokan. Nama harafiahnya berarti sebuah tempat menginap bertema tradisional, beralaskan tatami sebagai sarana melepas lelah pengganti kasur saat hendak tidur di malam harinya.

Ketika pagi menjelang, maka tatami akan dirapikan kembali untuk kemudian disimpan dalam ruangan seperti gudang temporary agar ruangan bisa berfungsi lagi. Warga Jepang akan memanfaatkannya sebagai ruang tamu sehari – hari sekaligus tempat bercengkrama dengan sesama anggota keluarga.

Harmonisasi Budaya Timur dan Barat Dalam Tren Rumah Mungil

Secara tidak langsung, masyarakat negara matahari terbit telah mencanangkan filosofi tren rumah mungil dalam kesehariannya tanpa ia sadari. Nilai tersebut baru diaplikasikan dalam budaya barat beberapa tahun terakhir, memberikan ide segar bahwasanya furniture tidak harus bersifat permanen melainkan semestinya portable.

Coba anda pilih, lebih suka menahan tombol selama lima detik untuk mendapatkan ruangan tidur, atau menapaki anak tangga ke lantai dua? Ini semua berbicara tentang adaptasi kebiasaan baru yang tidak akan menjadi kendala berarti sehingga penerapannya bisa segera dimulai saat ini juga.

Lagipula, penduduk Amerika Serikat sudah jenuh dengan kebiasaan buruk mereka sendiri yang cenderung menaruh segalanya dalam satu ruangan studio. Bagaimana mungkin anda bisa betah tidur dan makan di satu kasur yang sama? Pantas saja pandemi Covid-19 di negeri paman Sam tak kunjung reda bila warganya masih suka jorok.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *